ANALISA ETIKA SIARAN FILM “RUMAH DARA”

Film yang bergenre Slasher horor movie. Dan film ini diberi judul “Rumah Dara” karya The Mo Brother. Film yang awalnya diberi judul “Macabre” dan berubah menjadi “Rumah Dara” ini merupakan versi panjang film “DARA” di seri kompilasi film “TAKUT”. Sebelumnya, The Mo Brother menyajikan film ‘Dara’ hanya ingin menampilkan sisi ide kreatif anak bangsa yang bisa menembus karya film Indonesia yang berkualitas didalam proses produksinya.

Untuk film horor yang dibahas ini sangatlah berbeda dengan film horor lainnya, di Indonesia yang akhir-akhir ini hanyalah film horror yang menampilkan seluk beluk bentuk wujud setan serta ada beberapa film horor Indonesia yang mengkomposisikan film horor dengan kevulgaran yang menampilkan keseksian dan kemolekan tubuh aktor wanitanya.

 Didalam film horror “Rumah Dara” ini menceritakan tentang pengalaman paling mencekam yang berjumlah 6 orang teman lama. Adjie dan Astrid, pasangan yang sedang mengandung bayi dan dikarunia anak yang akan diberi nama Nico. Dan mereka berenam pergi ke Bandung secara bersamaan dengan menggunakan satu buah mobil van diantaranya yaitu Jimmy,  Eko, Ladya, Alam, Adjie dan juga Astrid istri Adjie yang sedang mengandung. Mereka pergi ke Bandung untuk berpamitan dengan Ladya adiknya, karena Adjie dan Astrid akan pergi ke Australia dan memulai hidup disana. Hubungan Adjie dan Ladya sebenarnya kurang harmonis semenjak kematian ke dua orang tua mereka. Dengan usaha keras, Adjie pun berhasil membujuk Ladya dan mau mengantarkannya ke Bandara daerah Kota Bandung. Saat menuju bandara daerah kota Bandung, mereka menemukan seorang wanita ditengah-tengah hutan yang bernama Maya yang sedang mengalami musibah perampokan disuatu tempat gelap didalam hutan yang penuh dengan pepohonan. Mereka pun mengantarkan Maya ke rumahnya, karena semua orang yang didalam mobil merasa kasihan jika wanita yang bernama Maya itu tidak diberikan tumpangan untuk menuju kerumahnya.

 Dan sesampainya dirumah Maya disana mereka disambut baik oleh penghuni rumah. Seorang gadis anggun bernama Dara sang ibunda dari Maya dan berpenampilan menawan mempersilahkan untuk beristirahat sejenak karena diluar sedang hujan lebat disamping itu si gadis anggun dara ini menawarkan kembali untuk menerima tamu saji berupa makan malam dengan maksud ucapan terima kasih karen sudah mengantarkan Maya pulang kerumah. Dan kemudian disinilah pengalaman buruk 6 orang teman lama dimulai setelah tamu saji yang berupa makan malam berubah menjadi malapetaka bagi ke 6 orang teman lama. Lalu kebaikan hati penghuni rumah menjadi kekejaman dan menjadi awal bencana di malam hari yang kelam itu. Mereka pingsan setelah menyantap makanan  tersebut dan mendapati diri mereka terkurung ketika tersadar.

 Kebaikan dan kemurahan hati serta senyum manis berubah drastis menjadi kekejaman didalam keluarga dara tersebut. Mereka menjadi pembunuh yang keji. Keenam orang tersebut terjebak dalam situasi mencekam dimana satu persatu mereka dibantai secara sistematis dan dimutilasi serta dipotong-potong setiap bagian tubuhnya.

 Tidak dilakukan dengan dipikir lagi, pembantaian berdarah pun dimulai, Armand yang bertindak sebagai tukang jagal tanpa basa-basi langsung mengeksekusi Alam dengan chainsaw (gergaji mesin) sebagai korban pertama dari kekejaman yang terjadi di “Rumah Dara”. Dengan santai dan ekspresi yang dingin, si tukang jagal itu mulai memutilasi korbannya dengan chainsaw di genggaman tangannya. Adegan berdarah dan sadis pun mulai disodorkan. Tetapi dalam film itu mereka pun harus berjuang mati-matian melarikan diri dari rumah berdarah tersebut.

 Bahwa sudah jelas dari tayangan film bioskop “Rumah Dara” yang bergenre Slasher Horor Movie ini menampilkan dan serta menayangkan adegan sadisme tentang pembunuhan berkarakter mutilasi memotong-motong bagian tubuh manusia, serta didalam isi film menampilkan dan menayangkan muatan kekerasan secara vulgar menayangkan selama panjangnya tayangan film sejak awal sampai akhir memperlihatkan adegan tembak-menembak, perkelahian dengan menggunakan senjata tajam, darah berceceran, korban yang dibunuh mengenaskan, ada unsur penganiayaan, serta terlihat adegan pemukulan dan pembunuhan sadis dengan motif memutilasi korban menggunakan chainsaw (gergaji mesin). Dalam film tersebut sangatlah terlihat tidak manusiawi karena menampilkan sisi kekejaman yang memotong bagian tubuh manusia seperti hewan.

Dan jika dilihat dari sisi Peraturan KPI tentang Standar Program Siaran Nomor 02 tahun 2007 melanggar Peraturan KPI Bab 7 Tentang Kekerasan dan Sadisme, Bagian Ke dua, Pasal 10 yaitu :

  • Program dikatakan mengandung muatan kekerasan secara dominan apabila sepanjang tayangan sejak awal sampai akhir, unsur kekerasan muncul mendominasi program dibandingkan unsur-unsur yang lain, antara lain yang menampilkan secara terus menerus sepanjang acara adegan tembak-menembak, perkelahian dengan menggunakan senjata tajam, darah, korban dalam kondisi mengenaskan, penganiayaan, pemukulan, baik untuk tujuan hiburan maupun kepentingan pemberitaan (informasi).

Dari dua perundangan-undangan Peraturan KPI Nomor 02 Tahun 2007 dan Nomor 03 Tahun 2007 Tentang Standar Program Siaran kini dari tanggal Penayangan pada tanggal 22 Januari 2010, menjadi sorotan besar didunia film Indonesia. Menjadikan sebuah analisis penting untuk film garapan sutradara kakak-beradik Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (Mo Brothers), ini menyuguhkan ketegangan luar biasa tanpa batas. Adegan-adegan berdarah tak pernah luput dari tontonan yang berdurasi 95 menit ini.

 Tetapi dari kesan sang sutradara Timo dan Kimo yang mengklaim telah menghabiskan 11 galon darah hewan dan darah sintetis untuk menggarap film panjang pertama mereka setelah membuat film pendek “Sendiri” dan film pendek slasher “Rumah Dara”. Dan malahan opini yang banyak timbul terkesan acungan jempol serta penghargaan untuk beberapa actor yang bermain dalam film Slasher Horor Movie “Rumah Dara” ini seperti Shareefa Daanish best Actress is aces and Arifin Putra is creepy,

 Bukankah seharusnya film horror tersebut mendapat kekangan serta sangsi karena banyaknya pelanggaran pembuatan film yang menayangkan adegan kekerasan, pembunuhan sadis, serta memperlihatkan darah-darah pada adegan film. Sebenarnya terlihat sekali pelanggaran yang terjadi dari peraturan yang ada pada Komisi Penyiaran Indonesia Tentang Standar Program Siaran.

 Oleh sebab itu dari film ini menjadikan analisis khusus dan menjadikan sorotan besar untuk pendirian Peraturan-peraturan Penyiaran di Indonesia yang sesuai Standar Program Siaran.

TERIMA KASIH…by boedie graph